Sahabatku yang Malang
Oleh
: Siti Hawa Hasibuan
Pagi
yang cerah telah membuat dunia ceria, matahari timbul dari timur dengan
sendirinya menembus jendela kamarku hingga menyentuh kulitku. Sepontan aku
terbangun dari tidurku. Tidak lupa kubacakan doa syukurku kepada tuhan yang
telah menciptakanku. kulihat jam kesayanganku sudah
menunjukkan pukul 06.00
WIB. Terdengar suara ibu telah
memanggilku.
“Nak
bangun, terus mandi dan kemarilah kita sarapan bersama-sama” sambil mengetuk
pintu.
“iya
bu,” jawabku sambil membereskan temat
tidurku.
Ibu
adalah malaikat bagiku dan kedua adik perempuanku, Ayahku meninggal 6 tahun
yang lalu sejak kepergiannya, ibu mengantikan posisi ayah menjadi tulang
punggung bagi keluargaku. Ibu sangat sayang kepada kami dia tidak pernah
mengeluh didepanku. Usai makan aku langsung berangkat ke sekolah dengan menaiki
sepeda peninggalan ayahku yang masih utuh kurawat dengan sepenuh hatiku. Sekarang
aku duduk di bangku SMA aku punya tiga sahabat yaitu Rahma, Imay, dan Sarah.
Mereka mempunyai sikap yang tentunya berbeda. Sesampai di sekolah aku langsung
masuk ke dalam kelas sahabatku ternyata sudah tiba di kelas mereka dengan ceria
menyapaku.
“Hai
siti kemarilah kami sedang menunggumu.” Sarah memanggilku Sambil melambaikan
tangannya.
Sembari
memasuki kelas ku balas sapaannya dengan senyumanku. Aku segera menuju ke arah
mereka. Tak lama kemudian bel pun berbunyi.
Teeeeeeeet…teeeeet…teeeet!!!!!!
Tandanya
kami menuju ke lapangan untuk mengikuti apel pagi seperti biasanya sebelum memasuki
kelas. Di saat berbaris guru memberi arahan tentunya untuk memotivasi bagi
siswa siswi. Sembari di barisan salah satu sahabatku Sarah ribut yakni tidak
mau mendengar arahan dari bapak/ibu guru yang sedang berdiri di depan. Sebagai
sahabat aku menegurnya dengan tidak melukai perasaan.
“Diamlah
sarah! cobalah mendengar apa yang di katakan orang yang lebih tua dari kita,
setidaknya hormati, dia kan guru kita” tegurku sambil memegang bahunya.
“sitti
jangan gitu la, begitu banyak orang di sini hanya kamu yang menegurku.” jawab
sarah tidak menerima teguran dariku.
Tak
heran mata semua orang menuju kea rah Sarah Aku pun terdiam saat mendengar
jawaban dari sarah sepertinya dia tidak menyukai hal seperti itu tapi
setidaknya sarah mengerti aku adalah sahabatnya. Aku tidak ingin dia terjerumus
dalam kesalahannya. Setelah usai memberi arahan kami pun masuk ke dalam kelas.
Sarah marah kepadaku di kelas ia tak pernah menawarkan satu katapun kepadaku.
Apa bingung kini ia menjauh dariku. Rahma dan imay juga bersamaku mereka
berpihak kepadaku karena apa yang kulakukan tadi kuanggap bukanlah suatu
kesalahan justru aku sangat menyayanginya. Sarah terbawa dengan sikap bebasnya
Nayla dia membuat sarah ke arah yang salah tetapi sarah tidak menyadarinya.
Setelah
jam istirahat berbunyi, aku, imay dan rahma mencoba untuk mengajak sarah ke
kantin bersama sebagaimana biasanya empat sahabat ini lakukan. tetapi ia sama sekali tidak menjawab ajakan
dari kami jangankan menjawab melihat kami saja dia sudah ennek.
“sarah
kita ke kantin yoo..!?”, sudah lama kita tidak makan bareng lagi. Ajak Rahma
kepada sarah.
“gue
ngak suka yak makan bareng sama kalian, gak sudih tau ngak!” Jawab Sarah dengan
nada kesal kepada kami.
Sarah
dengan cepatnya meninggalkan kami. Padahal, kami sudah lama bersahabat sejak
SMP dulu. kami sangat khawatir dengan kepada sarah. setelah pulang sekolah akan
ku coba lagi untuk menemui sarah aku tidak akan pernah menyerah sebelum sarah
kembali ke jalan yang benar seperti dulunya ia sangat pendiam berubah delastis
menjadi orang teribut di kelas kami.
“sarah
kamu kenapa sih? Kamu marah ya samaku?.. tanyaku dengan nada lembut dan
berharap sarah akan mencoba meninggalkan hal yang buruk selama ini.
“apaan
sih loo! Dengar ya gue gak bakalan balik lagi sama kalian, kalian itu alay sok
pahlawan dan asal lo tau ya kamu sudah mempermalukanku di barisan tadi, aku
tidak akan memaafkanmu.
Sambil
menunjukkan jarinya kearahku dengan suara yang kuat hingga sahabatku imay dan
rahma menuju ke arahku.
“Sudah
la siti, besok kita mencoba lagi untuk meyakinkan dia. Ujar Rahma kepadaku
sambil memelukku.
“terima
kasih sahabatku, aku tidak akan pernah menyerah sebelum Sahabat kita Sarah
kembali ke jalan yang ku anggap benar. Kami pun pulang ke rumahnya masing
masing.
Ditengah
perjalanan, aku melihat sarah singgah di tempat nongkrongan geng motor. sudah
pasti nayla bersamanya. Sarah duduk goncengan dengan salah satu geng motor
dengan gaya preman kulit yang gelumuri tulisan alias tato. Begitu juga dengan
Nayla. Aku sangat terkejut melihat sarah di sana, padahal dia belum pulang ke
rumah sarah masih memakai seragam sekolahnya. Aku menghampiri Sarah disana ku
ajak di pulang tetapi ia tetap tidak mau dan menolak ajakan ku yang kuterima
hanyalah caci maki darinya. Aku langsung pulang kerumah pikiranku masih terarah
kepada sahabatku Sarah. sesampai di rumah ibu telah menyiapkan makan siang
untuk ku. Tapi, pikiranku terbelah dua aku masih belum bisa melupakan Sarah di
tempat nongkrongan tadi. Perasaanku mulai tidak enak. Aku merasa sesuatu yang
buruk akan terjadi kepada Sarah.
Pagi
hari telah tiba aku bangun seperti biasanya ibu membuatkanku bekal roti
kesukaanku ke sekolah tapi akan ku berikan kepada Sarah nantinya. Sesampai di
sekolah aku tidak melihat Sarah biasanya ia duduk di bangkunya sambil
bercerita. Jika aku telah sampai di dean kelas ia tidak pernah lupa untuk
menyapaku. Tapi sarah yang kukenal dlu kini telah hilang. Kuperhatikan Sarah
belum nongol juga. Timbul pertanyaan di hatiku “Apakah Sarah tidak sekolah hari ini? Tapi kenapa dia
tidak datang? Apa masalahnya?
Bel
pun berbunyi.
Teeeeeet…teeeeet…..teeeeeet!!!!
Tandanya
kami menuju ke lapangan seperti biasanya, di barisan aku tidak juga melihat
Sarah ku cari dari awal barisan kami hingga ke belakang. Tidak ada juga rasa ke
khawatiranku bertanbah cemas. Setelah berdoa kami pun masuk kedalam kelas tidak
juga kulihat sosok seorang Sarah. ku Tanya kepada sekretaris kelas kami namanya
Eka.
“Ka,
klo boleh tahu Sarah ada ngirim surat kepadamu?” Tuturku menyapa Eka dengan
lembut dan mengharapkan Sarah menitipkan surat supaya aku tahu alasan kenapa
Sarah tidak sekolah pada Hari ini.
“oh
iya sit, ini Sarah menitipkan surat.” Jawab Eka
“emang
sarah kenapa?” mintaku untuk eka
perjelaskan.
“di
surat ini tertulis keterangan bahwa Ia sedang sakit karena mengalami
kecelakaan.” Jawab Eka mencoba untuk menjelaskan.
Aku
terdiam sejenak mengingat semalam dia bersama geng motor. Sewaktu aku pulang
sekolah setelah mendengar kabar dari Sarah aku langsung menemui Rahma dan Imay
yang sedang duduk di depan kelas. Aku lari kearah mereka ku jelaskan yang terjadi tentang sahabat kami
Sarah. mereka terkejut seakan merasakan masalah yang telah di alami Sarah.
“
seteletah pulang sekolah kita langsung kerumah sakit untuk menjenguk Sarah di
sana.” Usul Rahma kepada kami.
“tapi
apakah dia menerimaku disana?, dia terlanjur membenciku walaupun demikian aku
tidak pernah menyimpan dendam tentang
apa yang dikatakannya kepadaku.” Jawabku meminta pendapat.
“apa
salahnya mencoba, mana tahu kecelakaan yang di alaminya bisa membuat ia sadar
akan kesalahannya selama ini.” Imay memberi arahan kepadaku.
Setelah
pulang sekolah, kami langsung ke rumah sakit dimana Sarah dirawat. Sesampai
disana aku langsung memeluk Sarah sambil meneteskan air mata.
“Sarah
kau adalah sahabatku aku sangat mengkhawatirkan mu, semalam aku sudah
mengajakmu pulang. Nyatanya kau menolaknya.
“maafkan
aku sitti, aku menyesal karena tidak mendengarkan nasehatmu. Malah aku
mmemberimu caci makian.” Jawab Sarah sambil meneteskan air mata.
“iya
sarah aku memaafkanmu, yang penting kamu selamat, walaupun kamu harus
kehilangan kaki kananmu.” Keluhku kepada Sarah.
“biarkan
aku kehilangan kakiku, dari pada kehilangan sahabatku, aku menyayangi kalian.”
Kami pun memeluk Sarah.
Kini
Sarah sudah mulai membaik, dokter sudah menyarankan bahwa Sarah sudah boleh
pulang. Aku pun ingin mengantarkan Sarah
pulang ke rumahnya. Sedangakan Imay dan Rahma menyebut Sarah di rumahnya sarah
kami membuat kejutan untuk menyemangati sarah. sekarang sahabatku sudah kembali
kini kami seperti dulu lagi.
Keesokan
hari kami kembali bersekolah, aku dan Rahma saat itu barangkat sama. Sesampai
di sekolah kami langsung masuk ke dalam kelas. Aku memendangi semua penjuru
kelas tapi aku belum melihat sosok sahabatku sarah. dalam benakku bertanya
“apakah sarah tidak akan sekolah lagi?” mengingat kondisinya sekarang dia hanya
bisa duduk di kursi roda akibat kecelakaan yang menimpanya saat bersama geng
motor.
Tiba-tiba
seseorang muncul dari pintu kelas kami dan tak lain dia adalah Sarah, Sarah di
antar kesekolah bersama sopir pribadi ayahnya mengingat kondisi sarah sekarang
ayahnya sarah mencurahkan kasih sayang lebih kepada anaknya. Ya itu wajar
karena Sarah adalah anak tunggal orang yang berada. Aku langsung lari
menghamiri sarah.
“sarah
ternyata kamu masih sekolah aku sangat senang dan aku merindukan canda tawamu
Sarah. plissss tetaplah di sini bersama kami kami selalu menyayangimu”. Sambil
berlari menghampiri sarah
“Siti
aku juga merindukan kalian semua” jawab Sarah mencoba untuk menenangkanku.
“iya
sar, sini biar aku saja yang akan mengantarmu ke mejamu” sambil mendorong sarah
kearah mejanya.
“terima
kasih ya sitti”
“Sama-
sama Sar”
“Aku
kan Sahabatmu tidak salahkan klo aku ikut serta mengurusmu” aku tersenyum
kepada sarah sambil menyemangatinya.
Saat
pembelajaran pertama sampai terakhir aku hanya bisa memandangi dan membayangkan
sahabatku sangat semangat dalam menuntut ilmu walaupun ia kehilangan kakinya
tetapi semangat belajarnya tidak hilang, dengan keadaannya sekarang tidak
menjadi penghalang baginya untuk menuntut ilmu.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar