Minggu, 30 Oktober 2016

Sahabatku yang Malang
Oleh : Siti Hawa Hasibuan
Pagi yang cerah telah membuat dunia ceria, matahari timbul dari timur dengan sendirinya menembus jendela kamarku hingga menyentuh kulitku. Sepontan aku terbangun dari tidurku. Tidak lupa kubacakan doa syukurku kepada tuhan yang telah menciptakanku. kulihat jam kesayanganku sudah
menunjukkan pukul 06.00 WIB. Terdengar  suara ibu telah memanggilku.
“Nak bangun, terus mandi dan kemarilah kita sarapan bersama-sama” sambil mengetuk pintu.
“iya bu,” jawabku  sambil membereskan temat tidurku.
Ibu adalah malaikat bagiku dan kedua adik perempuanku, Ayahku meninggal 6 tahun yang lalu sejak kepergiannya, ibu mengantikan posisi ayah menjadi tulang punggung bagi keluargaku. Ibu sangat sayang kepada kami dia tidak pernah mengeluh didepanku. Usai makan aku langsung berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda peninggalan ayahku yang masih utuh kurawat dengan sepenuh hatiku. Sekarang aku duduk di bangku SMA aku punya tiga sahabat yaitu Rahma, Imay, dan Sarah. Mereka mempunyai sikap yang tentunya berbeda. Sesampai di sekolah aku langsung masuk ke dalam kelas sahabatku ternyata sudah tiba di kelas mereka dengan ceria menyapaku.
“Hai siti kemarilah kami sedang menunggumu.” Sarah memanggilku Sambil melambaikan tangannya.
Sembari memasuki kelas ku balas sapaannya dengan senyumanku. Aku segera menuju ke arah mereka. Tak lama kemudian bel pun berbunyi.
Teeeeeeeet…teeeeet…teeeet!!!!!!
Tandanya kami menuju ke lapangan untuk mengikuti apel pagi seperti biasanya sebelum memasuki kelas. Di saat berbaris guru memberi arahan tentunya untuk memotivasi bagi siswa siswi. Sembari di barisan salah satu sahabatku Sarah ribut yakni tidak mau mendengar arahan dari bapak/ibu guru yang sedang berdiri di depan. Sebagai sahabat aku menegurnya dengan tidak melukai perasaan.
“Diamlah sarah! cobalah mendengar apa yang di katakan orang yang lebih tua dari kita, setidaknya hormati, dia kan guru kita” tegurku sambil memegang bahunya.
“sitti jangan gitu la, begitu banyak orang di sini hanya kamu yang menegurku.” jawab sarah tidak menerima teguran dariku.
Tak heran mata semua orang menuju kea rah Sarah Aku pun terdiam saat mendengar jawaban dari sarah sepertinya dia tidak menyukai hal seperti itu tapi setidaknya sarah mengerti aku adalah sahabatnya. Aku tidak ingin dia terjerumus dalam kesalahannya. Setelah usai memberi arahan kami pun masuk ke dalam kelas. Sarah marah kepadaku di kelas ia tak pernah menawarkan satu katapun kepadaku. Apa bingung kini ia menjauh dariku. Rahma dan imay juga bersamaku mereka berpihak kepadaku karena apa yang kulakukan tadi kuanggap bukanlah suatu kesalahan justru aku sangat menyayanginya. Sarah terbawa dengan sikap bebasnya Nayla dia membuat sarah ke arah yang salah tetapi sarah tidak menyadarinya.
Setelah jam istirahat berbunyi, aku, imay dan rahma mencoba untuk mengajak sarah ke kantin bersama sebagaimana biasanya empat sahabat ini lakukan.  tetapi ia sama sekali tidak menjawab ajakan dari kami jangankan menjawab melihat kami saja dia sudah ennek.
“sarah kita ke kantin yoo..!?”, sudah lama kita tidak makan bareng lagi. Ajak Rahma kepada sarah.
“gue ngak suka yak makan bareng sama kalian, gak sudih tau ngak!” Jawab Sarah dengan nada kesal kepada kami.
Sarah dengan cepatnya meninggalkan kami. Padahal, kami sudah lama bersahabat sejak SMP dulu. kami sangat khawatir dengan kepada sarah. setelah pulang sekolah akan ku coba lagi untuk menemui sarah aku tidak akan pernah menyerah sebelum sarah kembali ke jalan yang benar seperti dulunya ia sangat pendiam berubah delastis menjadi orang teribut di kelas kami.
“sarah kamu kenapa sih? Kamu marah ya samaku?.. tanyaku dengan nada lembut dan berharap sarah akan mencoba meninggalkan hal yang buruk selama ini.
“apaan sih loo! Dengar ya gue gak bakalan balik lagi sama kalian, kalian itu alay sok pahlawan dan asal lo tau ya kamu sudah mempermalukanku di barisan tadi, aku tidak akan memaafkanmu.    
Sambil menunjukkan jarinya kearahku dengan suara yang kuat hingga sahabatku imay dan rahma menuju ke arahku.
“Sudah la siti, besok kita mencoba lagi untuk meyakinkan dia. Ujar Rahma kepadaku sambil memelukku.
“terima kasih sahabatku, aku tidak akan pernah menyerah sebelum Sahabat kita Sarah kembali ke jalan yang ku anggap benar. Kami pun pulang ke rumahnya masing masing.
Ditengah perjalanan, aku melihat sarah singgah di tempat nongkrongan geng motor. sudah pasti nayla bersamanya. Sarah duduk goncengan dengan salah satu geng motor dengan gaya preman kulit yang gelumuri tulisan alias tato. Begitu juga dengan Nayla. Aku sangat terkejut melihat sarah di sana, padahal dia belum pulang ke rumah sarah masih memakai seragam sekolahnya. Aku menghampiri Sarah disana ku ajak di pulang tetapi ia tetap tidak mau dan menolak ajakan ku yang kuterima hanyalah caci maki darinya. Aku langsung pulang kerumah pikiranku masih terarah kepada sahabatku Sarah. sesampai di rumah ibu telah menyiapkan makan siang untuk ku. Tapi, pikiranku terbelah dua aku masih belum bisa melupakan Sarah di tempat nongkrongan tadi. Perasaanku mulai tidak enak. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Sarah.
Pagi hari telah tiba aku bangun seperti biasanya ibu membuatkanku bekal roti kesukaanku ke sekolah tapi akan ku berikan kepada Sarah nantinya. Sesampai di sekolah aku tidak melihat Sarah biasanya ia duduk di bangkunya sambil bercerita. Jika aku telah sampai di dean kelas ia tidak pernah lupa untuk menyapaku. Tapi sarah yang kukenal dlu kini telah hilang. Kuperhatikan Sarah belum nongol juga. Timbul pertanyaan di hatiku “Apakah  Sarah tidak sekolah hari ini? Tapi kenapa dia tidak datang? Apa masalahnya?
Bel pun berbunyi.
Teeeeeet…teeeeet…..teeeeeet!!!!
Tandanya kami menuju ke lapangan seperti biasanya, di barisan aku tidak juga melihat Sarah ku cari dari awal barisan kami hingga ke belakang. Tidak ada juga rasa ke khawatiranku bertanbah cemas. Setelah berdoa kami pun masuk kedalam kelas tidak juga kulihat sosok seorang Sarah. ku Tanya kepada sekretaris kelas kami namanya Eka.
“Ka, klo boleh tahu Sarah ada ngirim surat kepadamu?” Tuturku menyapa Eka dengan lembut dan mengharapkan Sarah menitipkan surat supaya aku tahu alasan kenapa Sarah tidak sekolah pada Hari ini. 
“oh iya sit, ini Sarah menitipkan surat.” Jawab Eka
“emang sarah kenapa?” mintaku  untuk eka perjelaskan.
“di surat ini tertulis keterangan bahwa Ia sedang sakit karena mengalami kecelakaan.” Jawab Eka mencoba untuk menjelaskan.
Aku terdiam sejenak mengingat semalam dia bersama geng motor. Sewaktu aku pulang sekolah setelah mendengar kabar dari Sarah aku langsung menemui Rahma dan Imay yang sedang duduk di depan kelas. Aku lari kearah mereka  ku jelaskan yang terjadi tentang sahabat kami Sarah. mereka terkejut seakan merasakan masalah yang telah di alami Sarah.
“ seteletah pulang sekolah kita langsung kerumah sakit untuk menjenguk Sarah di sana.” Usul Rahma kepada kami.
“tapi apakah dia menerimaku disana?, dia terlanjur membenciku walaupun demikian aku tidak pernah menyimpan dendam tentang  apa yang dikatakannya kepadaku.” Jawabku meminta pendapat.
“apa salahnya mencoba, mana tahu kecelakaan yang di alaminya bisa membuat ia sadar akan kesalahannya selama ini.” Imay memberi arahan kepadaku.
Setelah pulang sekolah, kami langsung ke rumah sakit dimana Sarah dirawat. Sesampai disana aku langsung memeluk Sarah sambil meneteskan air mata.
“Sarah kau adalah sahabatku aku sangat mengkhawatirkan mu, semalam aku sudah mengajakmu pulang. Nyatanya kau menolaknya.
“maafkan aku sitti, aku menyesal karena tidak mendengarkan nasehatmu. Malah aku mmemberimu caci makian.” Jawab Sarah sambil meneteskan air mata.
“iya sarah aku memaafkanmu, yang penting kamu selamat, walaupun kamu harus kehilangan kaki kananmu.” Keluhku kepada Sarah.
“biarkan aku kehilangan kakiku, dari pada kehilangan sahabatku, aku menyayangi kalian.” Kami pun memeluk Sarah.
Kini Sarah sudah mulai membaik, dokter sudah menyarankan bahwa Sarah sudah boleh pulang. Aku  pun ingin mengantarkan Sarah pulang ke rumahnya. Sedangakan Imay dan Rahma menyebut Sarah di rumahnya sarah kami membuat kejutan untuk menyemangati sarah. sekarang sahabatku sudah kembali kini kami seperti dulu lagi.
Keesokan hari kami kembali bersekolah, aku dan Rahma saat itu barangkat sama. Sesampai di sekolah kami langsung masuk ke dalam kelas. Aku memendangi semua penjuru kelas tapi aku belum melihat sosok sahabatku sarah. dalam benakku bertanya “apakah sarah tidak akan sekolah lagi?” mengingat kondisinya sekarang dia hanya bisa duduk di kursi roda akibat kecelakaan yang menimpanya saat bersama geng motor.
Tiba-tiba seseorang muncul dari pintu kelas kami dan tak lain dia adalah Sarah, Sarah di antar kesekolah bersama sopir pribadi ayahnya mengingat kondisi sarah sekarang ayahnya sarah mencurahkan kasih sayang lebih kepada anaknya. Ya itu wajar karena Sarah adalah anak tunggal orang yang berada. Aku langsung lari menghamiri sarah.
“sarah ternyata kamu masih sekolah aku sangat senang dan aku merindukan canda tawamu Sarah. plissss tetaplah di sini bersama kami kami selalu menyayangimu”. Sambil berlari menghampiri sarah
“Siti aku juga merindukan kalian semua” jawab Sarah mencoba untuk menenangkanku.
“iya sar, sini biar aku saja yang akan mengantarmu ke mejamu” sambil mendorong sarah kearah mejanya.
“terima kasih ya sitti”
“Sama- sama Sar”
“Aku kan Sahabatmu tidak salahkan klo aku ikut serta mengurusmu” aku tersenyum kepada sarah sambil menyemangatinya.
Saat pembelajaran pertama sampai terakhir aku hanya bisa memandangi dan membayangkan sahabatku sangat semangat dalam menuntut ilmu walaupun ia kehilangan kakinya tetapi semangat belajarnya tidak hilang, dengan keadaannya sekarang tidak menjadi penghalang baginya untuk menuntut ilmu.
Tamat

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar